Ada rasa tenang, damai ketika
kaki ini menginjakkan pada tanah kelahiran,pada tanah tempat tumbuh semenjak
kecil hingga beranjak dewasa, sebuah desa kecil nan permai di pinggiran kota Jogja.
Ini merupakan kesekian
kalinya aku pulang , merasakan udara segar pedesaan , keramahan penduduk dan
alam desanya yang asri. Desa kecil ini bernama desa Kaweden, sebuah desa di pinggiran barat kota Jogja, tidak begitu
terkenal namun cukup asri ketika langkah-langkah kaki ini menelusuri disetiap
sudut desa.
Tak bosan rasanya untuk kembali
setiap waktu, ketika jenuh mengusik disela- sela hiruk pikuk penat kehidupan
ibu kota. Sedikit menghirup udara segar pedesaan, dengan bersepeda pagi hari di
tengah jalan aspal sawah sambil menikmati hijau pesawahan, melihat tanaman pagi
yang bapak tanam di petak sawahnya, berharap kelak panen padinya melimpah
sebagai bekal stok bahan makanan pokok dan sedikit sisanya dijual untuk
memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Ingatanku kembali ke masa
kecilku, masa dimana hari -hariku begitu berwarna dan begitu bahagia ketika
setiap sore bermain laying-layang di pematang sawah bersama teman-teman kecil,
menggembalakan kambing tetangga sambil bercanda dan bermain, mencari belalang
dan anak kodok di sawah untuk keisengan belaka, dan pada akhirnya melihat indah
lembayung senja dan angkuh gunung merapi disore menjelang senja selanjutnya
pulang sebelum adzan magrib berkumandang. Sejenak ikut meramaikan masjid
bersama- sama dengan bacaan iqra, setelah magrib sampai isya dalam kesunyian
dan kedamaian desa ini.
Banyak sudah kemajuan yang telah terjadi pada desa kecil ini,
rumah-rumah sudah semakin bagus dan kokoh berdiri, jalan yang dulu tanah kini
sudah full konblok, benteng pagar yg dulu dari tanaman kini berubah menjadi
batako dan satu yang tak berubah keramahan dan kedamaian akan penduduknya yang
setiap waktu aku rindukan.
Menikmati malam panjang
dengan segelas kopi bersama teman masa kecil disetiap aku pulang adalah sebuah
kebahagiaan tersendiri, bercerita tentang masa lalu sambil tertawa mengingat
kisah klasik masa lalu dan saat-saat inilah ketika masa lalu tak bisa terulang
lagi kita cukup duduk bersama dan sejenak mengenangnya, sambil menikmati hangat
kopi dan sebatang rokok kesukaan.
Desa ini sudah menjadi bagian
hidup kisah perjalananku, kelak ketika aku sudah lelah berpetualang sejauh yang
ku mampu dalam pencariaan makna hidup, desa ini akan menjadi tujuan akhirku
untuk kembali mengabdikan diri dan membangunya sesuai dengan kemampuanku. Dan
rasa- rasanya panggilan hati untuk lekas kembali sudah terniang-niang dalam
anganku.
Hijau dan asrinya desa ini
akan terjaga ketika sawah-sawah tetap menjadi lahan bagi petani untuk bercocok
tanam sesuai dengan fungsi sawah itu sendiri. Berharap persawahan akan tetap
menjadi persawahan, menginggat beberapa sawah sudah menjadi perumahan, tak
terbayang ketika pesawahan menjadi komplek perumahan mewah, kelak tak akan ada
lagi cerita tentang hijau pesawahan, tak kan ada lagi tempat bermain layang-layang
kembali dan tak akan ada lumbung padi untuk bekal anak cucu kita kelak.
Dan semoga desa ini akan
tetap menjadi desa yang asri, damai, ramah seramah para warganya.
Berbahagialah kalian yang
tinggal di desa tercinta ini.
@genk
ha ha iya mas dab..waktu rasanya cepet banget berlalu ya....
ReplyDelete