Sekali lagi
bukan jauh jarak perjalanan yang dilalui melainkan makna dan bagaimana
perjalanan itu dimulai.Ada keseruan
saat melakukan perjalanan bersama sahabat , dan perjalanann kali ini aku
ditemani seorang sahabat baik ku Sony, Sehabis
sholat jumat kami memulai perjalanan ini, Tujuan ke utara Jakarta tepatnya
rumah pitung di daerah Marunda. Mengandalkan ingatan Sony yang katanya pernah ke
rumah pitung waktu kecil maka motor kesayanganya melaju mulus meninggalkan
kosan.
Kami melewati kota
Harapan Indah belok kiri kearah Banjir Kanal Timur dan terus melaju mengikuti
jalur BKT hingga mentok selanjutnya belok kiri menuju arah Sekolah Tinggi
Ilmu Pelayaran, dari situ sudah dekat
menuju ke lokasi.
Rumah pitung
terletak di Jalan Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda,
Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, rumah panggung bercet coklat ini konon
katanya merupakan tempat tinggal si Pitung sang legenda Batavia.
Rumah pitung
Setelah memarkir motor dan bayar tiket masuk 5k kami
mulai melihat-liat rumah Pitung, berupa rumah panggung terbuat dari kayu, di dalamnya
tidak banyak peninggalan yang bisa dilihat, beberapa lukisan, meja kursi, dan
temapat tidur serta lampu gantung kuno.
Ruang tamu
Banyak versi cerita tentang keberadaan si pitung
jawara betawi ini, yang pasti ia telah menjadi legenda khususnya bagi warga
betawi.
Selepas dari rumah si Pitung saya melanjutkan
perjalan, motor melewati gang-gang kecil
becek menuju sebelah timur di sana salah satu peninggalan si pitung juga masih
terjaga yaitu berupa masjid.
Masjid kecil itu bercet coklat disisi depannya plang
nama meberikan informasi kalau masjid ini bernama Masjid al Alam Marunda. Saya sempat
menunaikan sholat ashar saya di keheningan dalam masjid. Tiang-tiang terlihat kokoh
berdiri tegak , beberapa jamaah juga khusuk dalam doa-doa panjangnya.
Bagian dalam masjid
Sebelum pulang , kami menengok pantai marunda yang
letaknya tak begitu jauh hanya berjalan sebentar melewati gang kecil di lapak
penjual makanan.
Kapal-kapal besar terlihat banyak bersandar,
terlihat juga beberapa orang sedang memancing, hamparan luas laut Jakarta dengan
ombak kecil yang sesekali menghantam kokoh tembok .
Duduk merenung, memandang lalulintas kapal ,
menikmati angin laut dan menikmati senja
yang sore ini tertutup oleh polusi jakarta.
Dan terciptalah sajak akan
kerinduan
Dari camar yang bernyanyi ku rasa kasihmu
Dari pasir yang berbisik kularut dalam cintamu
Satu waktu kita kan bertemu
Menunggu dalam ujung waktu yang jenuh
Bercerita tentang mimpi , tentang cinta dan kerinduan
Aku rindu laut
Aku rindu pantai
Dan aku rindu hadirmu
Menemani waktu sendiriku
Dalam sunyi
Dalam bosan yang tak berujung.
Untukmu sayang ku tuliskan sajak ini
Sajak kerinduan
Jagan pernah kau tanya tentang cintaku
Karena dalam diamku, sepenuh hatiku untuk mu...





No comments:
Post a Comment