Kebenaran akan
tetap menjadi sebuah kebenaraan walaupun harus menunggu lama untuk
mengungkapnya. Aksenof seorang saudagar muda yang tinggal di kota Vladimir dalam
suatu perjalanan ia dituduh membunuh seseorang di dalam penginapanya, kemudian
ia dihukum bertahun-tahun dalam penjara.
Beberapa tahun
kemudian ia bertemu dengan orang yang membunuh teman perjalanannya dulu,
seseorang bernama Makar yang kini juga mendekam di penjara yang sama.
Pada suatu hari
Makar ingin mencoba meloloskan diri dengan cara menggali tanah dari dalam bilik
penjara, Aksenof mengetahui akan hal tersebut, dan tak lama kemudian penjaga
mengetahui adanya lubang tersebut dan menanyakan siapa pembuat lubang tersebut.
Aksenof pun ditanyai karena menurutnya ia seorang yang baik dan pasti tahu
siapa orang yang membuat lubang tersebut, namun Aksenof tidak menceritakan siapa
orangnya.
Hal ini membuat Makar
semakin merasa bersalah terhadap Aksenof, menginggat ia lah orang yang membuat
Aksenof masuk ke dalam penjara, ia berniat untuk minta maaf dan akan menebus kesalahannya,
ia ingin membebaskan Aksenof dengan pengakuan bahwa ia lah sebenarnya orang
yang membunuh pada waktu dulu. Sayang sebelum Aksenof dibebaskan ia telah terlebih
dahulu bebas jiwa raganya menghadap Sang Kuasa, kebenaran akan menumui jalannya
sendiri tak peduli berapa lama ia harus terungkap.
Cerita tersebut
merupakan karya Leo Tolstoy bisa dibaca dibuku kumpulan cerita Leo Tolstoy yang
berjudul “ Tuhan Maha Tahu Tapi Dia menunggu.” Tak hanya bercerita tentang kebijaksanaan, Leo
Tolstoy juga banyak bercerita tentang kesepian, perdamaian,
perenungan-perenungan dan cinta kasih.
Pada bagian
cerita yang berjudul “ Berapa Luaskah Tanah Yang Diperlukan Seseorang?” Ia menceritakan sifat tamak akan harta benda yang menyebabkan sebuah
kematian.
Pokham seorang
tamak yang berkeinginan membeli tanah yang luas, ia diberi kesempatan untuk
mengukur tanah sendiri yang ingin dibelinya, penjualnya memberi kebebasan untuk
mengukur tanah seluas-luasnya tapi dengan batas waktu satu hari ia harus
kembali ke titik awal ia berangkat dan seberapa luas tanah itu akan menjadi
miliknya.
Karena rasa
tamak dan merasa masih belum puas terhadap tanah yang telah ia ukur, Pokham
terus berjalan dan mengukur tanah yang ingin dibelinya, namun menjelang batas
ahir ia kehabisan tenaga untuk kembali ke ke titik awal, ia mati sebelum sampai
garis finish yang sudah ditentukan, ia terbunuh sendiri oleh ketamakannya.
Karya-karya Leo Tolstoy
bercorak realistis dan bernuansa religius, renungan-renungan akan moral dan tak
sedikit tentang filsafat.
Dalam buku
kumpulan cerita Tuhan Maha Tahu Tapi Dia
Menunggu ,kita juga bisa membaca cerita-cerita legendaris diantaranya Ilyas, Ziarah, Berapa Luaskan Tanah Yang
Diperlukan Seseorang, Tuhan dan Manusia, matinya ivan llyich dll.
Membaca buku ini
serasa berguru akan kebijaksanaan seorang Tolstoy, tak salah ia menjadi
sastrawan kebanggaan bangsa Rusia, dan buku ini menjadi salah satu jalan untuk
mengenalnya, lewat cerita , perenungan dan pemikiran yang ia ungkapkan melalui
karya-karya sastranya.
@genk
No comments:
Post a Comment